“INSPIRASI PAGI”
VOL 83
“TAHAPAN MENDIDIK
ANAK”
Empat
puluh empat : Anak menyimpang, salah siapa?.
))وَهِيَ
تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي
مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِين((
}هود: ٤٢{
Artinya
: “Dan bahtera itu berlayar membawa
mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak
itu berada di tempat yang jauh terpencil : “Hai anakku, naiklah (ke kapal)
bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS
Hud:42).
KETERANGAN
:
Karena
sikap keras kepala dan pembangkangan kaum Nabi Nuh as terhadap seruan tauhid,
maka Allah Swt memberitahukan kepada Nabi Nuh bahwa Dia akan menurunkan azab
dan siksaan-Nya kepada orang-orang kafir itu. Allah memerintahkan Nabi Nuh agar
membuat sebuah bahtera besar, sehingga sewaktu azab tersebut turun, bahtera itu
akan menjadi alat perantara bagi orang-orang mukmin untuk menyelamatkan diri.
Akhirnya datanglah azab Allah.
Air
yang meluap dari perut bumi dan turunnya hujan lebat, telah menimbulkan banjir
yang besar dan dahsyat. Seperti yang diungkapkan oleh ayat ini, gelombang air
itu tinggi seperti gunung dan menghempaskan segala suatu di muka bumi. Namun
sayangnya putra Nabi Nuh as sendiri memilih berpisah dari jalan ayahnya dan
bergabung bersama orang-orang kafir. Karena itu, dia tidak mau naik bahtera
Nabi Nuh. Akan tetapi, naluri seorang ayah terhadap anaknya membuat Nabi Nuh
sampai pada detik-detik terakhir memanggil-manggil Kan'an dan berusaha
mengajaknya agar beriman kepada Allah dan meninggalkan orang-orang kafir Hikmah
dari cerita ini adalah bahwa “setiap orang tua bertanggung jawab terhadap nasib
anak-anak mereka”. Terutama nasib keselamatan mereka dari fitnah kekafiran dan
juga siksa Allah.
Banyak
orangtua yang hanya menghawatirkan keselamatan anak dari gangguan fisik dunia,
namun tidak peduli dengan nasib keselamatan anak dari penyimpangan dan
pedihnya siksa Allah Orangtua “harus ekstra membina anak agar selamat aqidah
dan selamat dari murka Allah”, sesibuk apapun orangtua haruslah tetap perhatian
terhadap perkembangan anak. Lingkungan atau teman bergaul akan sangat
berpengaruh terhadap pemikiran dan prinsip hidup. Bergabung bersama
orang-orang kafir akan menjauhkan manusia dari jalan kebenaran, meski andai dia
adalah anak Nabi sekalipun. Sebaliknya bergabung dengan orang orang baik akan
mengajak mereka kepada kebaikan pula. Maka, mari kita arahkan anak anak
kita untuk hanya bergaul dengan teman teman yang baik, agar anak terpengaruhi
oleh kebaikan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar