Minggu, 31 Maret 2019

Tahapan Mendidik Anak (43)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 82
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Empat puluh Tiga : Wasiat Penting Untuk Anak.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ: مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي
قَالُوا : ))نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ((
البقرة: ١٣٣

Artinya :  “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.  (Al-Baqarah:133)

KETERANGAN :

Hal yang seharusnya dikhawatirkan orang tua kepada anak adalah “agama”.  Orangtua harus benar benar menanamkan dalam dalam  keimanan ke lubuk hati anak.  Nabi Ya'qub memberikan teladan sebagai seorang bapak yang sangat peduli dengan agama anaknya. Wasiat yang beliau sampaikan kepada putranya sebelum wafat beliau adalah agama. Beliau berwasiat sepeninggalan beliau jangan sampai anak anaknya pada lepas dari agama Islam. 
Hal ini menarik. Ketika manusia saling berwasiat kepada anak tentang harta benda dan materi dunia, namun Nabi Ya'qub sebagai orang yang sholeh memberikan wasiat yang sesungguhnya, yaitu _wasiat untuk tetap memeluk agama Islam._ Karena hanya dengan Islam lah manusia bisa mulia dunia akhirat. Dengan Islam lah manusia terbebas dari pedihnya api neraka.  Di jelaskan bahwa Nabi Yaq’ub adalah putra Nabi Ishaq as. Dia dibesarkan dan diasuh kakek Bani Israil. Beliau wafat tahun 989 M dan dikuburkan bersama kakeknya Nabi Ibrahim as dan ayahnya Ishaq di Al Khalil tepi barat sungai Yordan.

Selanjutnya ayat diatas menjelaskan wasiat itu dengan bentuk yang sangat menyakinkan. Ketika mereka( anak anak itu) ditanya oleh Nabi Yaqub, lalu mereka sendiri menjawab, jawaban itulah yang merupakan wasiat Yaq’ub. Terlihat dari jawaban di atas sangatlah gamblang bahwa Tuhan yang mereka sembah tidak dua atau tiga tapi satu Allah SWT.  Salah besar jika dihukumi bahwa agama nabi Ya'qub bukan Islam. Sebab hanya Islamlah yang mengakui tauhid  (tuhan yang Esa). Singkatnya, mari kita sebagai orangtua menjadi orang tua yang peduli dengan keteguhan agama sang anak, jangan hanya memikirkan kebutuhan materi semata, namun agama jauh lebih penting dari segalanya. 

Tahapan Mendidik Anak (42)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 81
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Empat puluh dua : Menanamkan Nilai Iman.

قال جندب بن جنادة رضي الله عنه:
))كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان((
رواه ابن ماجه وصححه

Artinya : Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata : “Kami telah bersama Nabi–shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya”. (HR. Ibn Majah, sohih).

KETERANGAN :

Cara mendidik anak usia dini di rentang usia 7 th adalah menanamkan disiplin, kejujuran, kebiasaan baik dan yang terpenting adalah “menanamkan Iman kepada Allah SWT, Iman kepada Nabi saw, kepada dosa-pahala, neraka-surga dan lain sebagainya”.
Menanamkan Iman saat rentang usia ini, jauh lebih penting dari yang lainnya,sebagaimana yang disebutkan (dalam riwayat), bahwasanya yang termasuk dari petunjuk shahabat dan juga Sunnah adalah “mengajarkan tauhid dulu kepada anak-anak sebelum al-Quran”. Setelah bertambah umur barulah  diajarkan al Qur'an kepada mereka. 

Pendidikan aqidah adalah pondasi dasar, jika kuat pondasinya ini, maka kuat pula islamnya ketika telah dewasa nanti.  Anak pada usia 7 hingga 14 tahun diberkahi dengan daya tangkap dan daya tiru yang luar biasa. Oleh karena itu selain menanamkan iman,orangtua harus mendidik anak pada usia 7 – 14 tahun agar “menjauhkan dari perilaku syirik”, termasuk salah satunya mempercayai atau bermain main dengan ramalan ramalan bintang dan sejenisnya. Dilanjutkan  pembiasaaan “bersyukur pada Allah s.w.t pada saat kondisi lapang maupun sulit” perlu ditanamkan pada usia ini.

Juga pembiasaan “mendirikan sholat fardhu” dan tidak boros dalam mempergunakan harta.

Rabu, 27 Maret 2019

Tahapan Mendidik Anak (41)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 80
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Empatpuluh Satu : Sabar Mendidik Anak, Besar Pahalanya.

عن جا بربن سمرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ))لأن يؤدب الرجل ولده خير له من ان ينصدق بصاع ((رواه الترمذي

Artinya : Dari Jubair bin Samurah RA ia berkata :  Rasulullah SAW bersabda :  Sungguh bahwa seseorang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha”. (H.R. Tirmidzi).

KETERANGAN :

Setiap orangtua merasakan payahnya dalam mendidik dan membesarkan anak. Namun, orangtua menjalaninya dengan sabar sebab orangtua sangat cinta kepada anak dan orang tua juga tahu bahwa ini adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.  Banyak riwayat yang menyatakan akan fadilah atau keutamaan mendidik anak. Diantaranya adalah hadits yang tersebut diatas. Hadits diatas menyatakan bahwa setiap menjalankan pendidikan kepada anak, maka orantua mendapatkan pahala lebih besar dari sedekah satu sho'. 

Satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan berupa makanan pokok.  Sehingga ketika orangtua sering berinteraksi dengan anak, mengajari mereka adab adab, baca tulis dan lain sebagainya maka semakin banyak pula pahala yang didapat orangtuanya.  Jadi, mari sebagai orangtua kita sabar dan tabah dalam mendidik anak. Memang kadang kala mengalami kelelahan dan kebosanan, namun, yakinlah bahwa apa yang orangtua kerjakan ini adalah sebuah ibadah yang amat sangat besar pahalanya, yang aka kita panen di akherat kelak.

Semoga kita menjadi orangtua yang sabar. Amin.

Selasa, 26 Maret 2019

Tahapan Mendidik Anak (40)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 79
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Ke Empat puluh : Doa Orangtua Yang  Mustajab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : 

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya : “Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi”. (HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905, hadits ini hasan)

KETERANGAN :

Ada tiga doa yang mustajab (didengar dan diijabai oleh Allah). Tiga doa itu ialah :

1.    Doa orang tua untuk anaknya
2.    Doa musafir(orang yang sedang bepergian jauh) 
3.    Doa orang terdholimi. 

Begitu strategisnya posisi doa orangtua dihadapan Allah, maka sebagai orangtua hendaknya berupaya mendoa dengan doa doa baik untuk anaknya, hindari kalimat kalimat celaan kepada anak, karena kita tidak mengerti dari sekian banyak kalmat, mana yang sekiranya mustajab di hadapan Allah.  Oleh karenanya jangan sampai orang tua melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut masih sulit diatur.  “Hidayah dan taufik di tangan Allah” Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

Orang tua adalah sosok kramat bagi anak. “Hendaknya pula seorang anak selalu meminta doa restu kepada orangtua” untuk kesejahteraannya dunia hingga akhirat.  “Buatlah senang hati” orangtua, agar doa doa yang terlontar dari lisannya adalah kalimat kalimat baik. “Jangan sampai menyakiti hati orangtua”, bisa bisa orang tua salah berucap sehingga kesengsaraan  menghantui sang anak. 

Senin, 25 Maret 2019

Tahapan Mendidik Anak (39)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 78
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”
  


Ketigapuluh Sembilan : Menjadikan Masjid Ramah Anak.

عن عبد الله بن شداد بن الهاد عن أبيه قال :بينما رسول الله - صلى الله عليه وسلم -يصلي بالناس إذ جاءه الحسين فركب عنقه وهو ساجد، فأطال السجود بالناس، حتى ظنوا أنه قد حدث أمر، فلما قضى صلاته قالوا: قد أطلت السجود يا رسول الله، حتى ظننا أنه قد حدث أمر، فقال : إنَّ ابني قد ارْتَحَلني، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حتى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ ) . رواه النسائي والبيهقي وصححه الألباني(

Artinya : Dari Abdullah bin Syaddad bin Al Hadi  dari bapaknya beliau berkata : “Ketika Rasulullah sholat mengimami para sahabat, Al Husain cucu beliau datang dan menaiki leher dan tengkuk beliau ketika beliau sedang bersujud, maka beliaupun memperlama sujudnya, sampai para sahabat mengira telah terjadi sesuatu, ketika sholat sudah selesai, merekapun berkata : Engkau telah memperlama sujud wahai Rasulullah, sampai kami mengira telah terjadi sesuatu, maka beliaupun bersabda : “Sesungguhnya putraku ( cucuku ) menunggangku, dan aku tidak mau menghalanginya sampai dia puas melakukannya”. ( HR. An nasa’i dan Al baihaqi, Hadits Sohih ).

KETERANGAN :

Jadikan masjid ramah kepada anak. Keberadaan anak anak di masjid merupakan prestasi bagus yang harusya dipuji. Karena merekalah generasi mendatang pemakmur masjid ketika para orang tua telah tiada.  Namun sayangnya sekarang banyak kita jumpai masjid masjid yang tidak ramah terhadap anak. Ketika didapati banyak anak anak yang ikut kegiatan ibadah di masjid melakukan keributan maka para dewasa dengan galaknya membentak anak anak tersebut dengan alasan mengganggu orang ibadah. Dengan begitu menyebabkan anak kapok enggan kemasjid. Karena didalam benak mereka tertanam bahwa masjid tempat yang paling menyeramkan. Perlu diketahui bahwa sifat ribut pada anak anak itu adalah hal yang lumrah sesuai dengan tabiat. Adalah sebuah hal yang amat berat bagi anak ketika hanya lima menit saja harus diam tanpa canda tawa. Cukuplah bagi orang tua untuk mengarahkan dengan lembut dan santun, tanpa harus membentak dan galak. 

Perhatikan hadits diatas. 

Rosulullah saw biasa membawa cucunya ikut berangkat ke masjid untuk menyaksikan dan membiasakannya akrab dengan masjid.  Satu hal yang menarik dalam hadits itu, ketika cucunya berulah maka Rosulullah saw mensikapinya dengan lembut dan santun, sama sekali tidak memarahinya. 

Jadikan masjid ramah anak. Biarkan anak kita jatuh cinta dengan masjid. 

Tahapan Mendidik Anak (38)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 77
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”
  


Ketigapuluh Delapan : Sunnah Dihari Kelahiran Anak.


عن أبي موسى - رضي الله عنه - قال:
)وُلد لي غلامٌ، فأتيت به النبي - صلى الله عليه وسلم - فسمَّاه إبراهيم، فحنَّكه بتمرٍ، ودعا له بالبركة، ودفعه إليَّ(
رواه البخاري

Artinya : Dari Abu Musa Radhiallohu anhu beliau berkata: Aku dikaruniai seorang anak, maka akupun membawanya ke Rasulullah sallallohu alaihi wasallam, beliaupun memberinya nama Ibrahim, kemudian mentahniknya dengan kurma, dan mendoakan keberkahan untuknya serta memberikannya kepadaku”. (HR. Al Bukhari ).

KETERANGAN :

Ada tiga sunnah yang beliau ajarkan kepada umatnya dalam merawat bayi:

Ø Pertama memberi nama yang baik
Ø Kedua mentahnik 
Ø Ketiga mendoakan keberkahan. 

Sunnah RosuluLlah saw di hari pertama kelahiran ialah “mentahnik bayi”. Cara mentahnik adalah orang yang mentahnik mengunyah kurma hingga agak cair dan mudah ditelan, lalu ia membuka mulut si bayi, lalu ia menggosokkan kunyahan kurma tadi di langit-langit mulutnya sehingga si bayi akan mencernanya ke dalam kerongkongannya. Hendaknya yang melakukan tahnik adalah orang sholih sehingga bisa diminta do’a keberkahannya, terserah yang mentahnik tersebut laki-laki atau perempuan. Jika orang sholih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang didatangkan ke orang sholih tersebut.

Di samping mentahnik, penjelasan di atas juga menunjukkan setelah ditahnik hendaknya orang yang mentahnik mendoakan keberkahan pada si bayi. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan.

Do’a keberkahan di sini seperti do’a : 

Allahumma baarik fiih (Ya Allah, berkahilah dia), atau boleh pula dengan do’a keberkahan lainnya.

Tahapan Mendidik Anak (37)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 76
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Ketiga puluh tujuh : Tirakat Orangtua Untuk Sang Anak.

Menginginkan anak yang shalih, maka pertama kali orang tua juga harus sholeh terlebih dahulu. Janganlah ia hanya mengharap anaknya menjadi baik, sedangkan ia sendiri masih terus bergelimang dosa, masih sulit shalat, masih enggan menutup aurat, misalnya.
Ada seorang ulama yang bersusah payah untuk menambah jumlah sholat sunnahnya, dengan harapan anak anaknya menjadi anak anak yang patuh dan sholeh. 
Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya :

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih)”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467).

Bukti lain pula bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak, di antaranya kita dapat melihat pada _kisah dua anak yatim yang dirinya dan harta warisannya mendapat penjagaan Allah karena sebab ayahnya adalah orang yang shalih.
Silahkan lihat dalam surat Al-Kahfi.

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih”. (QS. Al-Kahfi: 82). 

Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan: 

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

 “Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467).

Mari kita berupaya menjadi orangtua yang sholeh, agar anak anak kita juga menjadi anak yang sholeh. 

Tahapan Mendidik Anak (36)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 75
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”

 
Ke Tigapuluh Enam :  Menyusui Anak Selama Dua Tahun.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا لا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.  Dan kewajiban ayah member Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila  keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. [Qs.Al-Baqarah ayat 233].

KETERANGAN :

Secara fitrah bayi yang baru lahir membutuhkan makanan dan minuman yang paling tepat yaitu ASI. Adapun masa waktumenyusui yang dianjurkan dalam islam adalah dua tahun. Selama penyusuan kebutuhan anak dan ibu yang menyusuinya ditanggung oleh bapak. Didalam masa merawat bayi maka orang tua, baik ayah maupun ibu haruslah bersabar. Tidak boleh seorang ayah atau ibu mengeluh dalam merawat bayi, sebab ini adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan. Boleh menyapih anak sebelum dua tahun, asalkan hal itu sudah menjadi kesepakatan antara suami istri. Anak boleh disusukan kepada orang lain. Dengan syarat harus memberikan  upah kepada wanita yang menyusui tersebut.

Tahapan Mendidik Anak (35)


“INSPIRASI PAGI”
VOL 74
“TAHAPAN MENDIDIK ANAK”


Ke tigapuluh lima : 4 Kewajiban Orangtua Kepada Anak.


عن أبي رافع قال : قلت يا رسول الله أللولد علينا حق كحقنا عليهم قال: نعم حق الولد على الوالد أن يعلمه الكتابة والسباحة والرمي(الرماية) وأن يورثه(وأن لا يرزقه إلا) طيبا
)هذا حديث ضعيف،من شيوخ بقية منكر الحديث ضعفه يحيى بن معين والبخاري وغيرهما باب ارتباط الخيل عدة في سبيل الله عز وجل)[6[

 Artinya : "Diceritakan dari Abi Rafi’ dia berkata :  Aku berkata wahai Rasullah apakah ada kewajiban kita terhadap anak, seperti kewajiban mereka terhadap kita ? Beliau menjawab : Ya, kewajiban orang tua terhadap anak yaitu mengajarkan menulis, berenang, memanah, mewariskan dan tidak memberikan rizki kecuali yang baik”. (Hadits ini dhoif, HR.al-Baihaqy, Sunan al-Baihaqy al-Kubra, Makkah al-Mukarramah: Maktabah dar al-Baz, Juz 10, 1414, 1994, h. 15).

KETERANGAN :

Ada 4 kewajiban yang harus orangtua ajarkan kepada anak, yaitu :  Menulis, Berenang, Memanah, Ekonomi. 

1.   Pendidikan menulis, Menulis adalah suatu pendidikan yang diprioritaskan bagi anak, bertujuan untuk menghilangkan kebodohan, pandai membaca, pandai menulis dan mencari wawasan seluas-luasnya, agar anak lebih pandai dan cerdas.

2.   Pendidikan berenang, Inti berenang adalah untuk mempertahankan hidup, kecakapan untuk melindungi diri,mental dilatih untuk tidak tenggelam, tidak mudah menyerah, dan harus tetap berenang hingga ketepian. Sama saja dengan hidup ini, seseorang harus tegar, tidak mudah tenggelam serta mempunyai visi dan misi hidup.

3.   Pendidikan memanah, Pendidikan ini bertujuan agar anak menjadi orang yang teguh dan cinta kepada tanah air, menjaga diri dari musuh dan melatih untuk membidik tepat sasaran. Tujuannya adalah  bisa membuat keputusan dengan tepat.

4.   Pendidikan ekonomi (Mencari rizki yang halal), Pendidikan ini bertujuan agar terhindar dari makanan yang haram. Dengan makanan yang baik dan halal seseorang akan terarah pada kebaikan, begitu pula sebaliknya, makanan yang haram akan membawa kepada kebatilan.

Semoga kita sebagai orangtua mampu mendidik anak anak kita sebagai manusia manusia tangguh yang mampu hidup mandiri, bermanfaat untuk agama bangsa serta mulia dunia dan akhirat. Amin.